Rabu, 27 Januari 2010

Dua Ekor Sapi Sambangi Dewan


Bima.-
Pintu pagar kantor DPRD Kabupaten Bima, sejak pagi terbuka. Sejumlah kendaraan masuk halaman. Para pegawai pun sibuk dengan urusan kerja dan beberapa anggota sudah mulai datang.
Ditengah kesibukan pegawai bekerja dan anggota dewan duduk menikmati hari yang cerah, dua ekor sapi masuk halaman. Jelasnya, bukan ternak yang berkeliaran bebas. Tubuh kedua ternak itu kurus dan satunya terlihat penyakitan.
Dua warga Desa Kawinda Toi Kecamatan Tambora, Sukri dan Hadirman menenteng masing-masing satu ekor sapi tersebut. Mereka membawa kedua ekor ternak itu sebagai bentuk “protes”. Karena bantuan yang diterima tidak sesuai dengan kenyataan.
“Selama saya menjadi anggota dewan, baru kali ini warga datang menyampaikan aspirasinya dengan membawa ternak langsung yang dikeluhkan. Biasanya hanya dalam bentuk laporan saja dan dewan turun ke lokasi,” kata anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bima, Ahmad, SP.
Sukri dan Hadirman mengaku ternak itu adalah bantuan dari program Percepatan Pengembangan Pusat Pertumbuhan Desa Tertinggal (P4DT). Sebelumnya mereka mengaku mendapatkan sosialisasi tentang program tersebut.
Penjelasan yang diterima, masing-masing anggota dalam kelompok mendapatkan tiga ekor sapi. Ternak yang akan diterima adalah calon bibit. “Namun faktanya yang kami diterima anak sapi berumur antara tiga hingga empat bulan,” katanya Sukri.
Setelah sosialisasi diterima, mereka tak mengetahui kapan ternak itu datang. Mereka baru mengetahuinya, ketika salah seorang Ketua RT, Mahfin, menyampaikan ke mereka untuk mengambil ternaknya di rumah kepala desa.
Sampai di rumah kades, mereka mendapati sembilan anak sapi. Kondisinya pun tidak sehat, kurus dan penyakitan, bahkan satu ekor telah mati. Sebenarnya mereka ingin membawa semua sapi itu ke DPRD, hanya saja terkendala biaya. Dalam satu kelompok mereka beranggotakan 30 orang. “Kami sengaja membawa ternak ini, karena tidak ingin dikatakan memberi laporan bohong,” ujarnya.
Mereka pun diterima oleh Ketua Komisi II, Ferdiansyah Fajar Islam dan akan mengelarifikasi dengan Bappeda sebagai leading sector program P4DT.
Sementara itu, Koordinator Program P4DT, Ir Muhammad Natsir, mengaku berterimakasih atas laporan warga tersebut. Namun disesalkannya, mengapa pengaduan itu tidak langsung ke mereka, melainkan dewan.
Meski demikian, katanya, akan mengecek ke lapangan apakah kenyataannya seperti itu. Mengapa sampai ada bibit ternak dengan kondisi itu lolos diberikan ke kelompok ternak.
Dijelaskannya, dalam petunjuk tehnis (juknis) satu kelompok terdiri 10 orang, masing-masing mendapatkan tiga ekor. Hal ini untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dan bantuan ini bergulir.
Dalam waktu tiga tahun, diharapkan dapat menghadilkan tiga anak dan digulirkan ke masyarakat lainnya. Sementara induknya menjadi milik pengelola. “Pemgadaan ternak ini melalui tender yang dimenangkan oleh CV Titian,” ujarnya di DPRD Kabupaten Bima, Selasa (26/1).
Di Tambora sendiri, katanya, program ini sudah tahun ke tiga, sementara Sanggar tahun ke dua. Jumlah ternak di dua kecamatan ini yang disalurkan 180 ekor untuk 12 kelompok. (*)

1 komentar:

  1. Penyimpangan bantuan dari pemerintah, kerap terjadi. kasus sapi dari program DP4 ini kemungkinan terjadi penyeleweangan. kasus ini harus diusut tuntas.

    Oji

    BalasHapus