(Kota Bima)
PIHAK Kepolisian Resor Kota (Polresta) dan Polres Bima, diawal 2010 ini harus bersibuk ria dengan maraknya judi togel. Penyakit masyarakat ini pernah menghilang dari peredaran, namun kini mulai marak lagi.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, polisi bisa mudah untuk membekuk bandarnya. Namun kini tak segampang dulu, karena mereka lebih lihai, termasuk lepas dari sergapan aparat.
Jaringan yang digunakan, tidak lagi konvensional seperti dulu. Namun, menggunakan model jaringan peredaran narkoba. Dimana pemakai dan pengedar kelas teri saja yang tertangkap, sementara bandar besarnya santai.
Kenyataan ini juga cukup meresahkan masyarakat BIma, yang dikenal religious. Namun, menjadi pertanyaan mengapa masyarakat tergiur dengan perjudian tersebut. Apakah hanya sekedar kegiaten iseng, atau karena tidak ada lapangan kerja tersedia.
Harus diakui pula, ketesediaan lapangan kerja di Bima, amat minim. Terutama sektor industri yang banyak menyerap lapangan kerja. Pilihan kerja yang banyak diminati sebagai alternatif sulitnya lapangan kerja adalah “Ojek”.
Jumlah kendaraan motor di Bima, cukuplah banyak. Bayangkan dalam sebulan ratusan kendaraan keluar dari dealer. Apalagi dengan kemudahan fasilitas kredit ke warga, bahkan kadang tanpa uang muka (DP). Kenyataan ini juga memicu jalan raya yang tidak diimbangi dengan ruas jalan.
Meskipun belum ada penelitian. Apakah ada korelasi langsung antara tidak tersedianya lapangan kerja dengan maraknya judi togel. Namun yang tidak bisa terbantahkan, lapangan kerja memang masih sangat sulit.
Kapolresta Bima, AKBP Tjatur Abrianto, SH, Sabtu (9/1), menyatakan akan terus memburu pelaku judi togel. Setidaknya dari kerja kepolisian sudah ada tujuh pelaku yang ditangkap. Hanya saja mereka yang diamankan masih sebatas pengedar.
“Dulu sebenarnya kami sudah memberantas judi togel ini, kini muncul lagi. Entah dari man datangnya,” katanya.
Dia berjanji akan memburu siapa pelaku atau pengedar togel di Bima. Dari mana asalnya, sehingga judi togel dapat dihentikan. Karena aktivitas judi ini dinilai dapat meresahkan masyarakat. “Dari semua pengedar yang ditangkap sementara semuanya orang Bima,” ungkapnya.
Tjatur juga heran, mengapa mereka berani kembali lagi beraksi di Bima. Padahal kepolisian sudah berhasil memberangusnya.
Fenomena ini tentu harus menjadi bahan permenungan bersama. Pemerintah juga harus berkaca, apakah maraknya judi togel, karena iming-iming keuntungan yang diperoleh jika angka tebakan benar. Hanya dengan modal sedikit, bisa mendapatkan keuntungan besar. Ataukah ini persoalan mental masyarakat Bima yang “malas bekerja keras”.
Pemberantasan judi togel, tidak hanya menjadi tugas polisi. Atau tidak bisa dipandang dari sudut tindakan kriminalitas. Kita harus melihatnya dari banyak sisi. Intinya bagaimana masyarakat bisa sejahtera. (SOFIYAN ASY’ARI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar