Kota Bima, Bimeks.-
Pengurus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Bima, mendatangi PT PLN Cabang Bima, menanyakan kinerja dalam mengatasi jadwal pemadaman. Mereka rencnanya menggelar unjuk rasa, namun urung dan memilih berdialog, Rabu (20/1).
Ketua IMM Cabang Bima, Ihlas, mengatakan untuk kali kedua mendatangi PLN Cabang Bima, sebelumnya 2009 lalu. Kedatangan mereka untuk menagih janji perusahaan listrik itu, bahwa tidak ada pemadaman mulai 2010.
“Kami melihat tidak ada keseriusan PLN menangani pemadaman. Kami menduga ada mark up di PLN,” katanya.
Pengurus IMM juga menyorot soal biaya taguhan yang semakin mahal. Padahal pemadaman listrik seharinya sering terjadi. Kenyataan itu juga banyak merusak barang elektroknik warga. Disamping itu, menilai PLN kurang sosialisasi kepada masyarakat.
Hal itu mendapat bantahan dari pihak PLN. Manajer PLN Cabang Bima, Arief Kuncoro, mengatakan mereka sudah berusaha memberi pelayana terbaik, termasuk mengatasi pemadaman listrik. Hanya saja semua butuh proses dan tidak bisa diatasi seketika.
Upaya mengatasi krises listrik di PLN Cabang Bima, kata dia, ada jangka pendek, menengah dan panjang. Bahkan kini sudah dipasang mesin sewa 2 Mega Watta (MW), sehingga giliran pemadaman satu kali dalam enam hari. Mesin 1 MW lagi akan dipasang dan jika beroperasi, maka pemadaman dapat diminimalisir antara satu kali delapan hari atau satu kali dalam sepuluh hari.
Untuk jangka menengah, kata dia, akan diupayakan pemasangan mesin sewa MFO 10 MW. Diperkirakan akan bisa beroperasi antara Agustus atau Oktober mendatang. Sedangkan PLTU Bontu kini masih dalam proses pengerjaan.
Sementara Manajer Bidang Distribusi, Syafruddin, membantah jika pihaknya tidak ada upaya. Apalagi mereka bekerja berdasarkan standar ISO. Dikatakannya, banyak faktor yang menjadi penyebab krisis listrik. “Ap yang menjadi keluhan mahasiswa, juga dirasakan oleh PLN,” ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Dino itu, membantah jika pemadaman listrik mengakibatkan barang elektronik rusak. Menurutnya tidak ada hubungan, kecuali barang elektronik itu tidak berkualitas.
Masalah pembayaran listrik yang diduga tarifnya mahal meski sering pemadaman, juga dibantah. Saat lampu padam, meteran tidak akan menyala. Jika ada yang keberatan karena pembayaran membengkak, maka dapat mengadukan di seksi pencatatan meteran.
Menghindari kesalahan pencatatan, pihak PLN menggunakan sistim foto kamera digital. Kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pencatatan, amat kecil. Pemakaian listrik dua bulan sebelumnya, itulah yang dibayarkan bulan ini. (BE.16)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar