Jumat, 08 Januari 2010

Merasa Disentil Qurais, Ferry Kepalkan Tangan

Kota Bima.-
Suasana Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kota Bima di hotel La Ila, sempat memanas. Suasana itu sebelum pemilihan berlangsung. Musda sempat ditunda beberapa kali.
Saat Musda dilanjutkan, sempat muncul protes dari peserta. Mereka menyorot program kerja, namun pimpinan sidang menyatakan ada momentum untuk menanggapinya. H Qurais H Abidin, sempat berbicara dan memicu ketersingungan Ketua DPD Partai Golkar Kota Bima, H Ferry Zulkarnain, ST.
Qurais yang juga Wakil Wali Kota Bima ini menyatakan keinginannya maju dalam bursa. Namun, dia tidak akan maju jika Pengurus Desa (PD) tidak memiliki hak suara. “Saya orang yang tahu malu,” katanya.
Dia mengaku, sempat mendekati para Pengurus Kecamatan (PK). Namun, sepertinya mereka berusaha menjauh dan menutup diri ketika komunikasi politik hendak dibangun. Saat itu, sempat terucap kalimat apakah ini sebagai sebuah kediktatoran seorang pemimpin.
Nah, kata diktator itulah yang menyebabkan Ferry bereaksi. Adrenalin Bupati Bima itu pun meletup. Ferry mengangkat tangan dengan mengepalkannya sambil menyatakan keberatan.
Dia tidak menerima kata diktator yang diucapkan Qurais itu. “Kalau saya dikatakan diktator, saya tidak terima itu. Tolong Anda jelaskan apa maksudnya,” ujar Ferry.
Apa reaksi balik Qurais? Dia mengaku kata-kata itu tidak ditujukannya pada personal. Diakuinya, sebelumnya PD se-Kota Bima mendatanginya dan menyampaikan aspirasi dukungan. Kata itu justru berkembang dari aspirasi yang diterimanya. “Tapi kalau ada hal yang menyinggung, maka di forum ini saya menyampaikan permintaan maaf,” katanya.
Selanjutnya, Ferry pun menyampaikan laporan kerja selama lima tahun. Setelah itu. dilanjutkan dengan tangapan oleh PK dan diawali pengurus Rasanae Barat. Saat itu, PK Rasanae Barat menerima laporan dan menyatakan dukungannya kepada Fera Amalia.
Setelah PK Rasanae Barat menyampaikan tanggapan dan menyatakan dukungannya, Qurais pun kembali bersuara. Katanya, jika pengurus PK sudah langsung menyebut nama kandidat, maka dia menyatakan mengundurkan diri.
Qurais pun menjabat tangan pimpinan sidang dan Ferry. Secara spontan pula PD yang hadir di ruang Musda keluar ruangan menyusul Qurais. Puluhan pendukung Qurais di luar arena Musda menyambut dan meneriakkan yel-yel.
Anda ingin tahu apa reaksi massa pendukung Qurais? Mereka jelas-jelas menyatakan kekecewaannya. Tak hanya itu. Reaksi tak terima mereka ekspresikan dengan mencopot baju Golkar yang digunakannya. Mereka mengumpulkan dan membuangnya di depan pintu masuk arena Musda.
Qurais mengaku keinginannya untuk maju sebagai Ketua Golkar muncul karena keprihatinan. Apalagi, pencapaian kursi legislatif kian menurun dari tujuh, turun keenam, dan kini hanya empat kursi.
Dia mengaku, pernah besar dalam Golkar dan berkeinginan membesarkan partai warisan Orde Baru itu lagi. Seperti Zainy Aroni dan Aburizal Bakri yang berniat seperti itu. “Bagaimana membesarkan Golkar yang tidak munafik,” katanya.
Setelah lima PK menyampaikan tanggapan dan menyatakan dukungan kepada Fera, giliran Subhan HM Nur, SH, yang berbicara. “Saya sebenarnya ingin maju sebagai calon, semua persyaratan sudah saya lengkapi. Namun, apa daya tangan tak sampai,” katanya.
Apalagi dukungan sudah mengalir ke Fera. Setelah berbicara, Subhan bersalaman dan sempat berpelukan dengan Fera dan keluar arena Musda. Keluarnya Subhan disambut para pendukungnya. Ferry pun sempat melontarkan penilaian kepada Subhan sebagai kader terbaik yang dimiliki DPD Partai Golkar Kota Bima.
Subhan mengaku sikap yang diambilnya sama dengan Qurais dan menyerahkan kepada konstituen menilai proses Musda seperti apa. “Pastinya kami sudah banyak berbuat untuk membesarkan partai. Keputusan ini saya ambil sesuai dengan hasil istiharah,” katanya.
Dia mengaku, sudah melakukan yang terbaik bagi Golkar. Memiliki konstituen yang jelas, namun saat Musda semua PK menyebut Fera Amalia. Semua dikembalikannya kepada konstituen apakah proses Musda ini wajar atau tidak. Dia berharap ketua terpilih benar-benar dapat membesarkan partai.
Bagaimana jika ditawarkan menjadi pengurus lagi? Subhan menyerahkan penilaian kepada yang lain. Apakah dirinya masih dianggap pantas untuk menjadi pengurus atau tidak.
Sebelumnya, massa pendukung Qurais terus menggelar orasi di luar arena Musda. Mereka meminta agar proses Musda berlangsug wajar, tanpa ada kebohongan. Secara terbuka mereka juga menolak kepemimpinan perempuan dalam komunitas Beringin di Kota Bima. (PIAN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar