Kota Bima.-
Gempa 6,7 Skala Richter (SR) sudah dua bulan berlalu. Namun, korban gempa belum mendapat kepastian kapan bantuan diperoleh. Terutama untuk memperbaiki bangunan rumah mereka yang rusak.
Tidak adanya kepastian itu, membuat sejumlah warga korban gempa, menjual harta miliknya untuk membantun rumah sederhana. Bahkan ada yang tidak mampu, namun masyarakat lain secara swadaya membangunkan tempat tinggal.
Seperti yang terlihat di Jatibaru. Tiga kepala keluarga yang rumahnya rusak akibat gempa, belum mendapat kepastian. Untuk berteduh mereka masih bertahan menggunakan tenda bantuan dari Dinas Sosial saat gempa terjadi.
Maryati mengaku bantuan hanya diterima, ketika gempa terjadi, berupa tenda dan sembako. Setelah tidak itu ada bantuan lain lagi yang datang. Dari pihak pemerintah juga tidak pernah turun melihat bagaimana kondisi mereka saat ini, terutama yang bertahan di tenda darurat.
“Kami tidak minta apa-apa, selain untuk membangun rumah kembali. Itu saja yang kami minta perhatian dari pemerintah,” katanya di Jatibaru, Jumat kemarin.
Prihatin dengan kondisi korban gempa, sejumlah warga lain, kemarin mulai membantu membangun rumah secara swadaya. Mereka memanfaatkan sisa-sisa kayu bangunan yang dapat digunakan.
Ketua RT 08 Jatibaru, Ahmad Abdullah, mengaku ini sebagai bentuk keprihatinan mereka. Apalagi saat ini memasuki musim hujan. Tenda yang digunakan saat ini sebagai tempat berteduh, dianggap tak layak. “Kami akan membangun tiga rumah. Namun untuk sementara dua rumah dulu, kami memanfaatkan sisa kayu dari rumah yang rubuh,” katanya.
Diakuinya, sebelumnya pernah menanyakan ke Dinas Sosial kapan warganya akan mendapat bantuan. Dari dinas sendiri menyampaikan sesegera mungkin. Namun sudah dua bulan gempa terjadi, belum ada bantuan itu.
“Kalau menunggu terus kapan lagi. Untuk sementara kami membangunkan rumah seadanya, yang penting bisa ditempati,” ujarnya.
Jika tetap menggunakan tenda, kata dia, maka saat hujan datang di dalam tergenang. Apalagi tidak ada sirkulasi udara, sehingga membuat suasana dalam tenda pengap.
Kenyataan juga dialami oleh korban gempa di Penatoi. Rumah M Taher hingga saat ini belum mendapat bantuan, hanya sembako ketika gempa terjadi.
Ela anak M Taher mengaku orang tuanya terpaksa menjual motor untuk membangun rumah dari dinding bedek. Padahal motor itu menjadi matapencaharian menafkahi keluarga.
Agar tetap bisa bertahan hidup, ibunya Siti Rahma terpaksa berjualan keliling. Dari keuntungan berjualan itulah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Agar kondisi kehidupan mereka bisa sedikit membaik, kini kedua orang tuanya ke Tambora untuk menanam kacang. Hasilnya nanti bisa digunakan menata kehidupan agar normal kembali. (PIAN)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar