Rabu, 06 Januari 2010
Gus Dur di Persimpangan Pahlawan Nasional Atau Wali
Pasca kematian Kyai haji Abdurrahman Wahid eks presiden terjatuh RI ke-4 (Gus Dur) khalayak mulai ramai mempertimbangkan status Eks Presiden ini. Ada yang berpandangan bahwa Gus Dur layak mendapatkan gelar pahlawan nasional dan ada juga yang berusaha atau bahkan telah menasbihkan Gus Dur sebagai wali ke-10 (ayo siapa lagi yang mau daftar sebagai wali ke-11???…). Mari kita telisik kedua gelar ini, pada dasarnya Gus Dur (GD) memang memiliki kemampuan intelegensia di atas rata-rata bahkan menurut salah satu pemimpin Negara tetangga pemikiran GD lebih maju setahap dari masa kini, bahkan kita sering mendengar celotehan-celotehan sederhana GD yang maknanya tidak sesederhana itu…. daya hapal beliau sangat luar biasa dan daya tangkap atas informasi yang beliau terima juga amat luar biasa mungkin betul ujar salah satu teman semasa di bangku kuliah yang sekarang tengah melanjutkan studi S2 di UGM (kapan ya bisa melanjutkan studi lagi?…) bahwa ada sebuah teori tentang keunggulan genetik yang terjaga dari satu generasi ke generasi lainnya (saya pun mengamini teori tersebut kawan…) GD adalah bagian dari sebuah garis keturunan yang amat berkualitas khususnya di tanah jawa ini, kakek beliau K.H Hasyim Asy`ari adalah salah satu pahlawan nasional yang mampu mengikat kelompok Islam kemudian mendirikan sebuah organisasi Nahdlatul Ulama yang hingga kini berkembang menjadi sebuah aliran jamaah Islam yang besar bahkan mampu mewarnai perjalanan bangsa ini. Begitupun dengan sang Ayah K.H Wahid Hasyim yang dikenal sebagai pelopor tradisi ke-Islaman khususnya di tanah jawa. Peran Gd pun tak kalah dari para pendahlunya, GD pun tampil sebagai pemimpin Negara yang telah merombak tatanan sosial, politik, hukum, budaya yang telah di kerangkeng selama 32 tahun… bukan GD kalau tidak kontroversial, beliau memiliki nyali yang luar biasa di keberpihakannya terhadap kalangan marjinal minoritas seperti dicabutnya larangan pemerintah tentang perayaan Imlek dan pencabutan larangan terhadap PKI, tidak berhenti sampai disitu GD membuka hubungan dengan Israel yang membuat kalangan Islam Indonesia bergejolak kala itu. Bukan berarti tanpa sebab dan tujuan yang jelas apa yang telah dilakukan GD tak mudah untuk memetakan pemikirannya apalagi coba memprediksi apa yang selanjutnya dilakukan. Hal ini tergambar dengan jelas saat GD mengambil keputusan untuk meninggalkan sistem ekonomi neoliberalistik yang sebelumnya selalu dikembangkan oleh tim ekonom yang dikenal oleh “Mafia Barkeley”, tindakan kontroversial yang satu sisi memberikan dampak signifikan bagi bangsa ini tapi di sisi lain hal inilah yang membuat kepemimpinan GD tak berlangsung lama. Dengan rasa hormat dan takjim saya terhadap sang manusia bebas bernama Gus Dur, bahwa Indonesia belum siap dipimpin oleh personifikasi layaknya Gus Dur, bahkan sebenarnya Gus Dur lebih cocok sebagai Guru Bangsa daripada berkutat di kotornya dunia politik. Gus Dur tak butuh pengakuan di akhir hayatnya….dan saya yakin yang Gus Dur butuhkan adalah orang-orang mau memikul tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita agar Indonesia lebih baik. (www.KOMPAS.com)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar