Jumat, 01 April 2011

Tuhan tidak Diskriminatif Memberi Potensi Menulis

Mengapa ketika mengawali tulisan sangat sulit. Apa yang harus diperhatikan, sehingga tulisan mengalir. Pertanyaan-pertanyaan itu mencuat ketika Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima, Kamis 31 Maret 20011 lalu. Pelatihan itu sendiri dihelat oleh Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

THOMAS Alfa Edison beratus kali salah ketika menyempurnakan listrik modern. Orang kebanyakan sudah menyerah pada kesempatan kedua dan ketiga. Oleh karena itu mengapa begitu banyak orang biasa dan hanya satu Edison.
Hal paling sulit dalam menulis adalah memulainya. Malas dan gampang menyerah ketika menemukan kesulitan pada awal menulis. Tidak ada yang seperti Edison yang tak gampang menyerah, ketika berbuat salah. Mencoba dan teruslah mencoba, jangan takut salah. Justru sangatlah salah, ketika kita kuatir akan hal itu.
Usman D Ganggang dan Muhammad Fikrillah, yang menjadi pembicara pada pelatihan tersebut memberikan nasehat seperti itu. Menulis tidak sukar, kata mereka.
Tuhan tidaklah diskriminatif pada hambanya. Tidak memberikan potensi menulis pada sebagian orang. Semua memiliki potensi yang sama, yang membedakannya adalah usaha. Seperti Edison. “Kemampuan menulis diperoleh melalui proses, tak ada yang instan. Tidakkah Allah menyatakan dalam Al Quran, sesungguhnya Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau ia tak mengubah nasibnya sendiri,” kata pembicara lainnya, Sofiyan Asy’ari.
Dengan menulis, bisa menjadi wahana penyampaian ide. “Kalau ingin menjadi penulis yang hebat, maka mulailah menulis. Tulis apa yang ingin ditulis, jangan takut salah,” tambah Usman D Ganggang.
Lebih lanjut, Usman menyatakan bagi mahasiswa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari pengembangan profesi, seperti menjadi guru. Baginya seorang guru harus bisa memahami tentang mengajar dan menulis.
“Seorang guru yang hanya mengajar tanpa menulis dan mendesain program, sama halnya dengan ibarat balon. Kemana angin berhembus ke sanalah dia. Artisnya, kerja tanpa tujuan jelas,” ujar Usman yang membawakan materi tentang menulis artikel.
Pelatihan jurnalistik itu, rupanya tak hanya menarik minat mahasiswa, namun juga beberapa dosen menyempatkan hadir. Bahkan mereka antusias bertanya kepada pamateri, bagaimana kiat mengatasi kesulitan dalam menulis.
Kegiatan menulis dilingkungan akademik, rupanya belum popular. Tak hanya mahasiswa di Bima sebagai kaum terpelajar yang jarang menulis. Kalangan dosen pun demikian, beberapa diantara mereka mengaku sulit memulainya.
Di Bima sendiri cukup banyak media massa yang sebenarnya dapat dimanfaatkan dalam menuangkan berbagai gagasan atau ide. Banyak artikel atau opini yang dimuat di media massa, seperti Harian Pagi Bimeks, Harian Suara Mandiri, Lombok Post, dan lainnya hasil karya yang diambil dari internet. Atau melalui berlangganan Antara.
Tentu menyenangkan atau ada kepuasan sendiri, jika tulisan artikel atau opini kita bisa dimuat di media massa, sehingga dibaca orang lain. Tidaklah bangsa ini dibangun dari sebuah ide atau gagasan.
Jika kita yakin Tuhan Maha Adil, maka jangan menyalahkan-Nya ketika Anda tak bisa menulis, sementara orang lain dapat melakukannya. Perbedaannya adalah, mereka berusaha hingga potensi menulisnya terasah, sementara Anda belum memulainya.
Jadi, marilah menulis. Sekarang! Jangan ditunda. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar