Minggu, 24 April 2011

GP Ansor Kota Bima Ingatkan Waspadai NII

Kota Bima, Bimeks.-
Maraknya pemberitaan tentang gerakan pencucian otak yang diduga dilakukan oleh Negara Islam Indonesia (NII) mengundang reaksi dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Bima. Meskipun Kota Bima belum dimasuki gerakan organisasi tanpa bentuk itu, tapi tetap harus waspada. Apalagi ada mahasiswa asal Bima di Malang yang diduga ikut menjadi korban.
Ketua GP Ansor Kota Bima, Dzul Amirul Haq, S.PdI, mengatakan NII tidak lain adalah organisasi warisan lama yang bertujuan mengubah Indonesia menjadi Negara Islam. Mereka termasuk kelompok yang anti Pancasila.
Irul menilai, Kota Bima termasuk salah satu daerah yang berpotensi untuk tumbuh suburnya gerakan-gerakan seperti ini, vandalisme dan pemaksaan atas nama agama. Dakwah dengan cara cuci otak, kumpul uang untuk tebus dosa, dianggap hal aneh.
“Berdasarkan informasi yang beredar di beberapa stasiun TV swasta, mahasiswa Bima di Malang menjadi korban pencucian otak oleh aktifis NII. Ini informasi langsung dari salah satu pimpinan GP Ansor Kota Bima yang sedang berada di sana untuk mendampingi penyelesaian masalahnya,” ujarnya kepada Bimeks di Paruga, Minggu (24/4).
Garakan NII ini, kata dia, mengincar remaja dan mahasiswa. Di kota Bima ini ada ribuan mahasiswa, bukan tidak mungkin lahan yang potensial untuk mereka garap. “Kita harus menjaga jangan sampai mahasiswa di Bi ma ikut disusupi oleh gerakan NII, gerakan mereka bisa langsung terorganisir secara sistematis, bisa juga melalui pendekatan personal. Bisa saja tanpa kita sadari mereka menyusupi kelompok-kelompok kajian tertentu untuk menyebar doktrin-doktrin NII,” ujarnya mengingatkan.
Dikatakannya, bisa saja NII bergerak di bawah tanah dan berusaha melebarkan pengaruh ke seluruh wilayah di Indonesia, termasuk Bima. Untuk menangkalnya, perlu ada pengawasan bersama dari semua pihak. Apalagi sekarang banyak bermunculan aliran dan gerakan yang mengatasnamakan Islam, tapi tindakan dan doktrinnya mengingkari budaya Islam yang dikembangkan oleh masyarakat Bima sejak dahulu kala.
Meski, kata Irul, hak untuk berserikat dan mengemukakan pendapat dilindungi UU. Tapi Islam yang kembangkan di Indonesia adalah Islam yang toleran dan ramah budaya. Bukan Islam yang main paksa, karena Al-Quran tegas menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama. Apalagi kalau ada yang menggunakan kekerasan terselubung, sampai mengkafirkan orang lain, atau mengucilkan diri dari pergaulan sosial, menjadi hal yang aneh.
“Gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam itu tidak masalah. Semakin banyak semakin bagus karena masyarakat memang membutuhkan wadah curhat, jadi wahana bertukar pikiran, untuk character building juga bagus. Namun perlu ditelusuri lebih dalam, kalau ada yang sedikit mencurigakan ya kita bisa tanya pada guru-guru atau ulama kita yang lebih banyak tahu masalah agama,” jelasnya.
Untuk itu, kata dia, saat ini GP Ansor Kota Bima akan memantau gerakan-gerakan mencurigakan itu. Pengurus ditingkat Ranting akan menjadi benteng ketahanan budaya dan Islam di kampung-kampung. Termasuk pengajian rutin keliling di perkampungan.
GP Ansor Kota Bima juga, kata dia, akan membentuk Majelis Dzikir Rijalul Ansor. Ini akan menjadi forum sederhana untuk berkumpul, berdzikir dan tempat kajian bersama dengan remaja-remaja Masjid.
Sementara, kata Irul, terkait meningkatnya intensitas ancaman terorisme yang marak akhir-akhir ini, GP Ansor Kota Bima akan memfokuskan menambah jumlah personil Banser (Barisan Ansor Serba Guna). Mereka akan dididik dan dilatih sesuai arahan nasional untuk membantu pihak TNI dan Kepolisian. Terutama dalam hal penyerapan dan pertukaran informasi. (BE.16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar