Kota Bima.-
Teror bom yang mengguncang Kota Bima, Senin (25/4) diduga terdapat tiga motif dari pelakunya, yakni ekonomi politik, radikalisme dan sikap frustasi. Teror tersebut sebaiknya jangan dianggap biasa atau diacuhkan, namun harus diseriusi. Hal itu dikatakan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Bima, Dzul Amirulhaq, dalam siaran persnya, Selasa (26/4) kemarin.
DIjelaskannya, untuk motif ekonomi politik, sebagai ulah antagonistik dari sekelompok orang yang tidak ingin pembangunan di Kota Bima ini maju pesat. Ada phobia dan ketakutan dari pihak-pihak yang ingin mengacaukan pertumbuhan ekonomi di daerah ini, dengan memperburuk citra stabilitas Kota Bima bagi iklim investasi.
“Ini dapat dilihat dari sasaran terornya yang mengarah pada tempat-tempat strategis seperti BRI, Museum Asi Mbojo dan Kantor Pemkab. Tiga gedung ini adalah simbol di Kota Bima, BRI termasuk simbol perekonomian, ASI sebagai simbol kebudayaan, dan Kantor sebagai simbol pemerintahan,”ujarnya.
Kemungkinan motif kedua, kata dia, bentuk gerakan yang mirip dengan teror-teror radikalisme atas nama agama dan marak akhir-akhir ini. Bisa juga ada kelompok yang mencoba memanfaatkan situasi trauma publik pasca banjir bandang, di Kota dan Kabupaten Bima. “Mereka berhasil memanfaatkan momentum, bisa momentum politik, momentum kebudayaan atau momentum-momentum lain, sehingga masyarakat tidak mencurigai gerakan tersebut sebagai skenario mereka, apalagi sasaran teror mereka bukan rumah ibadah melainkan simbol daerah,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya peristiwa tersebut sebagai indikasi, sekaligus pesan bahwa kelompok-kelompok ekstrem radikal sedang memperlihatkan eksistensi di daerah ini. GP Ansor menduga ini sebagai rantai kerja yang sistematis dari sebuah jaringan terorganisir dan terlatih. Khusus di Bima mereka mencoba manfaatkan momentum, dimana ada usaha mengalihkan perhatian, sehingga terkesan ini teror bernuansa politis.
Kemungkinan ketiga, ungkapnya, dilakukan oleh orang-orang Psikopat dan frustrasi yang senang mengadu domba masyarakat, senang nonton kekacauan dan senang melihat Bima tidak nyaman. Tentunya dengan target pemuasan diri sendiri, apalagi sehari sebelumnya di Sape dan beberapa wilayah Kota Bima masih dilanda trauma Banjir.
“Kami meminta kepada aparat keamanan agar kita tidak sampai kecolongan, apalagi Presiden juga sudah mengeluarkan instruksi status Negara Siaga satu pasca bom bunuh diri dan penemuan bom di pipa gas dekat Katedral. Kita tidak boleh mengansumsi bahwa ini semata bermodus politik. Soal teror begini, kita mesti tanggap pada sisi pesannya, bahwa ini adalah upaya untuk mengganggu stabilitas, meresahkan publik, dan menciptakan rasa tidak aman bagi masyarakat,” ujarnya
Terlepas dari apapun motif pelaku teror, dianggapnya sebagai tindakan pengecut, tidak beradab, dan tidak sesuai dengan karakter masyarakat Bima pada umumnya. GP Ansor menilai jarang orang Bima yang isengnya separah ini dan membuat kacau kampong halamannya, kecuali pelaku sudah tergolong psikopat.
Dikatakannya, sebelumnya ada bom di KPU Kabupaten Bima, tapi belum diketahui pelakunya. Lalu paket serupa bom di Manggemaci dan kini sejumlah lokasi di Kota Bima. “Coba saja simak persidangan kasus dugaan terorisme seorang tokoh, saya pernah baca di sebuah situs berita, bahwa uang yang disebut-sebut dikirim untuk pembelian senjata di Aceh itu ternyata juga bersumber dari iuran anggota mereka yang ada di Bima. Barangkali kita perlu selangkah lebih berani untuk memunculkan asumsi-asumsi yang tidak semata berkutat di ranah politik-ekonomi. Ini teror, bagaimana pun masyarakat Kota Bima harus tetap merasa aman dan tenteram,” ujarnya.
GP Ansor, kata dia, tetap percaya bahwa pihak kepolisian dan TNI akan mampu membongkar sindikat teror ini. Masyarakat wajib mengapresisasi dan memback-up langkah-langkah strategis pihak keamanan. Masyarakat harus tetap tenang sambil meningkatkan kewaspadaan dan menunggu investigasi tuntas dari Kepolisian.
“Gerakan Pemuda Ansor sesuai instruksi Pimpinan Pusat juga diminta untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak keamanan dan stakeholder untuk membantu membentengi masyarakat dari penyebaran doktrin-doktrin radikalisme, terutama radikalisme agama. Kasihan generasi kita, adik-adik kita, mereka yang masih remaja, atau mungkin depresi dengan keadaan, bisa saja jadi target perkawanan oleh mereka, didoktrin sedikit demi sedikit sampai akhirnya terlena,” ingatnya. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar