Oleh Sofiyan Asy’ari
Benhur adalah salah satu kendaraan transportasi tradisional di Bima. Beberapa tahun lalu, sarana transportasi ini menjadi banyak pilihan bagi warga. Namun kini, secara perlahan benhur tergerus oleh alat transportasi lainnya, terutama ojek. Bahkan ojek juga membuat pengusaha bemo gulung tikar.
LALU lintas di jalan Gajahmada, Kamis (14/4) lalu tak terlalu ramai. Beberapa kendaraan roda dua sesekali melintas. Dari kejauhan terlihat kuda berlari pelan, menerik gerobak, di atasnya ada dua orang. Laki-laki dan seorang perempuan duduk di bagian belakang.
Derap langkah kuda berpacu dengan beberapa motor yang melintas di Penaraga. melewati beberapa jalan berlubang menuju arah timur. Beberapa saat benhur yang dikemudikan oleh Junaidin, lenyap ditikungan perempatan pasar Penaraga menuju arah utara.
Perempuan yang duduk di bagian belakang gerobak benhurnya itu merogoh uang Rp4.000. Seharian menarik benhur, baru itulah yang yang diperolehnya. Ayah tiga anak ini, kembali memutar arah melewati jalan sebelumnya.
Sepi. Tak ada sahutan atau suara memanggil. Beberapa orang menunggu dan memanggil ojek. Sarana transportasi kendaraan roda dua ini, memang telah menjadi pilihan baru, karena bisa sampai ke tujuan dengan cepat. Apalagi jumlah ojek di Bima sangat banyak, apalagi dengan kemudahan mendapatkan sepeda motor dengan jalan kredit.
Seorang pria dengan baju batik sasambo bermotif Renda berdiri di balik pintu gerbang. “Benhur,” teriaknya dan Junaidin pun menarik tali kekang kuda, agar teman setianya itu berhenti. “Ke Rabangodu pak,” lanjut pria yang mengenakan celana dan tas punggung hitam itu.
Junaidin berfikir mendapat tambahan rezeki hari ini. Selama perjalanan pria itu mengajaknya ngombol. Menanyakan tentang alamat, nama, anak dan berapa penghasilannya tiap hari.
Seolah mendapatkan teman, Junaidin pun curhat, tentang profesinya. Beberapa tahun lalu, ketika belum ada ojek, ia bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Mengepulkan asap dapur dan membeli kebutuhan rumah tangga lainnya.
Meskipun pendapatannya rata-rata Rp50 ribu/hari. Nilai yang baginya cukup besar kala itu. Tapi kini, bermimpi rasanya untuk bisa mendapatkan jumlah itu. Amatlah beruntung rasanya, jika bisa membawa pulang Rp25 ribu. “Hari ini saja, saya baru mendapatkan empat ribu rupiah,” katanya sambil merogoh kantong baju dan memperlihatkan uang itu ke pria yang menjadi penumpang keduanya.
Pastinya, kata dia, uang itu tak cukup. Apalagi memiliki tiga anak dan semuanya sekolah. Satu orang duduk di bangku SMA, satu lagi SMP dan paling bungsu Taman Kanak-kanak (TK). Beban yang sangat berat untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. “Saya tidak memiliki pekerjaan lain dan hanya ini saja,” kata Junaidin yang mengaku tinggal di Penaraga, samping Kantor Jasa Raharja.
Junaidin mengaku kerap mangkal di SMAN 4 Kota Bima, menunggu anak-anak pulang sekolah. Berharap ada yang mau menggunakan jasa benhurnya. Meski bayaran tak seberapa, namun inilah yang bisa dilakukannya untuk keberlangsungan kehidupan keluarga.
“Berhenti di sini saja pak,” kata pria yang menjadi penumpangnya sore itu, sambil merogoh uang dan menyerahkannya pada Junaidin.
“Terimakasih banyak pak,” timpal Junaidin dan pria yang menjadi penumpannya itupun melangkah pergi dan bayangnya lenyap dibalik tikungan.
Junaidin kembali memacu lari kudanya dan bertarung dengan kerasnya kehidupan. Benhurnya tak lagi menjadi andalan untuk menopang kehidupan keluarga. Apalagi jalur laju kendaraan tradisional ini kian dibatasi dan tak boleh melenggang di jalur protokal.
Tentu, Junaidin menjadi salah satu cermin kondisi para kusir benhur saat ini. Pertanyaan besarnya adalah sampai kapankan mereka mampu bertahan? (*)
bos kasi fotonya benhur... sy ngak tau modelnya bro
BalasHapusok bung shahib, memang rasanya itu yang kurang
BalasHapus