Selasa, 26 April 2011

GP Ansor Duga Ada Tiga Motif Teror Bom di Bima

Kota Bima.-
Teror bom yang mengguncang Kota Bima, Senin (25/4) diduga terdapat tiga motif dari pelakunya, yakni ekonomi politik, radikalisme dan sikap frustasi. Teror tersebut sebaiknya jangan dianggap biasa atau diacuhkan, namun harus diseriusi. Hal itu dikatakan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Bima, Dzul Amirulhaq, dalam siaran persnya, Selasa (26/4) kemarin.

Minggu, 24 April 2011

GP Ansor Kota Bima Ingatkan Waspadai NII

Kota Bima, Bimeks.-
Maraknya pemberitaan tentang gerakan pencucian otak yang diduga dilakukan oleh Negara Islam Indonesia (NII) mengundang reaksi dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Bima. Meskipun Kota Bima belum dimasuki gerakan organisasi tanpa bentuk itu, tapi tetap harus waspada. Apalagi ada mahasiswa asal Bima di Malang yang diduga ikut menjadi korban.

Rabu, 20 April 2011

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

Oleh Yudhistira ANM Massardi

KOMPAS.com - Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai, --katakanlah hingga dua dekade ke depan--, yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur.

Jumat, 15 April 2011

Ketika Alat Transportasi Benhur Kian Tergerus

Oleh Sofiyan Asy’ari

Benhur adalah salah satu kendaraan transportasi tradisional di Bima. Beberapa tahun lalu, sarana transportasi ini menjadi banyak pilihan bagi warga. Namun kini, secara perlahan benhur tergerus oleh alat transportasi lainnya, terutama ojek. Bahkan ojek juga membuat pengusaha bemo gulung tikar.

Mencontoh Demokrasi Ala MAN 2 Kota Bima

Pendewasaan demokrasi, harus ditumbuhkembangkan sejak dini. Sekolah diharapkan dapat memberikan pendidikan baik pada siswa, karena ke depan merekalah yang akan menjadi pemimpin.

Sabtu, 02 April 2011

Juri Apresiasi Lomba Rancang Busana Tenun

Kota Bima, Bimeks.-
Pameran tenun dan batik Sasambo khas NTB, yang diadakan oleh Pemerintah Kota Bima dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah, rupanya mendapat apresiasi dari juri. Dua orang penilai lomba dari Mataram, yakni Ipul Daeng H dan Joice mengaku peserta yang mengikutinya cukup besar.
Dibandingkan beberapa kali kegiatan serupa di Mataram, jumlah peminatnya kecil. Sementara kegiatan pertama di Kota Bima diikuti oleh 74 rencanangan busana. “Subhanallah, ini luar biasa. Namun dalam mengikuti lomba sebaiknya menggunakan assesoris sesederhana mungkin,” ujarnya salah seorang juri wanita, Joice di aula Pemkot Bima, tempat dilaksanakannya penilaian rancang busana, Jumat (1/4).
Ipul juga memberikan beberapa saran kepada peserta lomba rancang busana tenun dan batik NTB. Memerhatikan kriteria lomba dan memastikan mengikuti kategori yang mana. Dari situlah nantinya perancang akan menentukan desain busana yang diinginkan.
Ketua Panitia Lomba, Muhaimin, mengaku tak membayangkan jika peserta yang mengikuti kegiatan ini cukup besar. Apalagi juri sendiri menilai kegiatan ini terbanyak pesertanya dibandingkan ivent sebelumnya di Lombok.
Para peserta mengaku senang dengan lomba ini, karena bisa memacu kreativitas mereka dalam membuat rancangan busana. Seperti diungkapkan Dewi Rahmawati salah satu peserta lomba rancang tenun. “Kalau bisa kegiatan ini diadakan tiap tahun, agar ada motivasi perancang Bima meningkatkan kualitas dan membuat inovasi baru,” harapnya.
Dewi sendiri membuat rancangan busana dengan tema feminism dan nyentrik. Karya-karya yang lainnya dinilainya bagus semua dan tak disangka perancang lokal bisa membuat karya seperti itu.
Ririn membuat rancangan menanggabungkan tenunan dengan bahan alam. Ia menggunakan tambahan pernak-pernik alam berupa potongan-potongan bamboo kecil, sebagai assesorisnya.
Demikian juga Fitriani, yang mengusung tema buana glamor lady, mengaku senang mengikuti kegiatan itu. Disarankannya pula kegiatan ini dapat diagendakan tiap tahunnya. Ungkapan dan harapan serupa juga disampaikan oleh Ratnaningsih, SE dan Agustini Gesuriwati.
Agustini peserta dari Dompu berharap kegiatan ini tak hanya sekali saja. Apalagi 16 perancang dari Dompu ikut serta dan menunjukkan tingginya minat mengikuti rancang busana daerah.
Kegiatan juga akan dilanjutkan dengan peragaan busana hasil karya para perancang. Rencananya peragaan akan dihelat di Paruga Nae pada Sabtu (2/4) malam. (*)

Disiapkan Dana Rp2 M untuk Pengembangan Koperasi di NTB

Bima, Bimeks.-
Untuk mendukung pengembangan koperasi di NTB, pemerintah telah menanggarkan dana sebesar Rp2 miliar. Dana pengembangan itu akan dikucurkan juga untuk koperasi di Bima. Hal itu disampaikan Kabid Kelembagaan dan Pembinaan Koperasi Dinas
Koperasi dan UKM Provinsi NTB, Sudiarsa, MM, saat acara Sosialisasi Percepatan Rapat Anggota
Koperasi (RAT) di aula PKK Kabupaten Bima, Kamis (31/03) lalu.
Sudiarna mengatakan keberadaan koperasi telah memberikan dampak nyata dalam peningkatan perekonomian masyarakat. Koperasi tak hanya lembaga yang an-sich social, tapi telah menjadi salah satu lembaga ekonomi yang strategis. Itu karena koperasi dikelola oleh masyarakat dan dimiliki oleh masyarakat.
“Bantuan dana ini harus direbut oleh seluruh koperasi yang ada tiap-tiap Kabupaten. Tentu, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi --- diantaranya sudah
pernah melaksanakan minimal tiga kali RAT dan bantuan ini dialokasikan untuk kegiatan simpan pinjam koperasi,” ujarnya seperti dikutip Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Bima, Drs Aris Gunawan dalam siaran persnya, Jumat (1/4).
Sosialisasi ini, kata Kabid Pembinaan Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bima, Rahmatullah, SH, diadakan tiap tahunnya dengan melibatkan 70 peserta. Terdiri dari 10 peserta pembina koperasi, 50 orang pengurus koperasi se Kabupaten Bima.
Hingga 31 Maret 2011 terdapat 75 unit koperasi yang telah melaksanakan RAT. Dijanjikannya dinas terkait akan mengoptimalkan peran dalam pembinaan koperasi di daerah. (BE.16)

Jumat, 01 April 2011

Tuhan tidak Diskriminatif Memberi Potensi Menulis

Mengapa ketika mengawali tulisan sangat sulit. Apa yang harus diperhatikan, sehingga tulisan mengalir. Pertanyaan-pertanyaan itu mencuat ketika Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima, Kamis 31 Maret 20011 lalu. Pelatihan itu sendiri dihelat oleh Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

THOMAS Alfa Edison beratus kali salah ketika menyempurnakan listrik modern. Orang kebanyakan sudah menyerah pada kesempatan kedua dan ketiga. Oleh karena itu mengapa begitu banyak orang biasa dan hanya satu Edison.
Hal paling sulit dalam menulis adalah memulainya. Malas dan gampang menyerah ketika menemukan kesulitan pada awal menulis. Tidak ada yang seperti Edison yang tak gampang menyerah, ketika berbuat salah. Mencoba dan teruslah mencoba, jangan takut salah. Justru sangatlah salah, ketika kita kuatir akan hal itu.
Usman D Ganggang dan Muhammad Fikrillah, yang menjadi pembicara pada pelatihan tersebut memberikan nasehat seperti itu. Menulis tidak sukar, kata mereka.
Tuhan tidaklah diskriminatif pada hambanya. Tidak memberikan potensi menulis pada sebagian orang. Semua memiliki potensi yang sama, yang membedakannya adalah usaha. Seperti Edison. “Kemampuan menulis diperoleh melalui proses, tak ada yang instan. Tidakkah Allah menyatakan dalam Al Quran, sesungguhnya Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau ia tak mengubah nasibnya sendiri,” kata pembicara lainnya, Sofiyan Asy’ari.
Dengan menulis, bisa menjadi wahana penyampaian ide. “Kalau ingin menjadi penulis yang hebat, maka mulailah menulis. Tulis apa yang ingin ditulis, jangan takut salah,” tambah Usman D Ganggang.
Lebih lanjut, Usman menyatakan bagi mahasiswa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari pengembangan profesi, seperti menjadi guru. Baginya seorang guru harus bisa memahami tentang mengajar dan menulis.
“Seorang guru yang hanya mengajar tanpa menulis dan mendesain program, sama halnya dengan ibarat balon. Kemana angin berhembus ke sanalah dia. Artisnya, kerja tanpa tujuan jelas,” ujar Usman yang membawakan materi tentang menulis artikel.
Pelatihan jurnalistik itu, rupanya tak hanya menarik minat mahasiswa, namun juga beberapa dosen menyempatkan hadir. Bahkan mereka antusias bertanya kepada pamateri, bagaimana kiat mengatasi kesulitan dalam menulis.
Kegiatan menulis dilingkungan akademik, rupanya belum popular. Tak hanya mahasiswa di Bima sebagai kaum terpelajar yang jarang menulis. Kalangan dosen pun demikian, beberapa diantara mereka mengaku sulit memulainya.
Di Bima sendiri cukup banyak media massa yang sebenarnya dapat dimanfaatkan dalam menuangkan berbagai gagasan atau ide. Banyak artikel atau opini yang dimuat di media massa, seperti Harian Pagi Bimeks, Harian Suara Mandiri, Lombok Post, dan lainnya hasil karya yang diambil dari internet. Atau melalui berlangganan Antara.
Tentu menyenangkan atau ada kepuasan sendiri, jika tulisan artikel atau opini kita bisa dimuat di media massa, sehingga dibaca orang lain. Tidaklah bangsa ini dibangun dari sebuah ide atau gagasan.
Jika kita yakin Tuhan Maha Adil, maka jangan menyalahkan-Nya ketika Anda tak bisa menulis, sementara orang lain dapat melakukannya. Perbedaannya adalah, mereka berusaha hingga potensi menulisnya terasah, sementara Anda belum memulainya.
Jadi, marilah menulis. Sekarang! Jangan ditunda. (*)