Selasa, 20 September 2016

Sang Naruto

Ada yang berkesan, ketika menyaksikan Grasstrack Bolly Racing Team di Sirkuit Desa Panda Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, NTB, 17-18 September 2016. Kehadiran seorang crosser cilik, Ichsan Naruto (12 tahun) dari VIAR Racing Team Semarang. Dia turun di kelas PW Kids. Sudah mulai mencuri perhatian saat latihan pertama kali di sirkuit Panda. Gaya membalapnya beda. Tehniknya matang. Aksinya memukau. Beberapa crosser cilik Bima sebelumnya memerlihatkan aksinya. Tapi beda. Tidak itu saja yang menarik perhatian. Pembawaannya yang rendah hati. Pendiam. Tidak wara wiri dengan motornya untuk sekedar gaya atau pamer. Baru menyiapkan diri ketika akan masuk arena. Puluhan anak-anak panda mengerumininya. Kagum. Seperti halnya Bagus, seusia dengannya. Tidak ada pembawaan sombong. Malah berbaur. Duduk bersama, seperti halnya anak-anak. “Saya suka gaya membalapnya,” kata Bagus yang diamini teman-temannya yang lain. Ketika Race akan dimulai. Ichan Naruto duduk, berdoa. Terlihat khusu’. Lalu naik ke motor VIAR 100 CC. Kembali berdoa, ketika race belum dilepas. Mengangkat kedua tangan. Kepala tertunduk. Diusapnya wajah, ketika mengamini doa. Tersirat, seolah juara tidak hanya soal tehnik atau keahlian mengendalikan kuda besi. Namun, memasrahkan diri pada sang Pencipta. Tidak lupa diri atau sombong, bahwa prestasi yang diukir adalah karunia-Nya.
Lap pertama babak penyisihan segara di mulai. Dengan pakaian dan helm dominan hijau muda, gampang mengenalinya. Bendera start pun dikibas. Knalpot motor Kelas PW Kisd meraung. Debu mulai berterbangan. Laju ban kian menggaruk tanah dan Ichsan Naruto pun tidak terkejar. Motor beberapa kali melambat, gas diturunkan, sesekali menengok ke belakang. Melihat yang lain jauh tertinggal. Di Panggung, komentator seolah tidak melihatnya, karena nama crosser cilik lain yang terus disebut. Empat pembalap dibelakang pun disusulnya dan finish. Kembali ke tenda, duduk dan kembali dikerumuni anak-anak. Di Final, Naruto kembali tidak tertandingi. Crosser cilik Bima, perlu banyak belajar. Kemenangan Ichsan Naruto pun bisa dinilai wajar. Karena dilatih dan berlatih disirkuit yang sudah standar. Apalagi, ternyata selama melakukan latihan, menggunakan motor Viar 250 CC, bukan menggunakan motor kecil. Wajar saja, ketika motor mini yang digunakannya mudah dikendalikan. Apalagi ketika turun di kelas campuran, melawan motor 250 cc, 200 cc, 150 cc. Di kelas inilah, Naruto sesungguhnya. Mampu mengimbangi pembalap dewasa dengan cc lebih besar. Berada di urutan 5 dari 10 crosser yang di lepas. Di lap terakhir, nyaris masuk empat, ketika hendak mengambil lop, namun motornya melebar dan keluar. Aksinya sudah meninggalkan kesan, mengukir cerita di sirkuit Panda dan memory orang yang menyaksikannya. Kita berharap di Bima, akan ada sirkuit permanen, sehingga lahir crosser handal. Tidak hanya untuk skala lokal, namun nasional dan internasional. Karena genarasi Bima memiliki darah petarung. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar