Senin, 28 Maret 2011

Achyar: PD Wawo Layu Sebelum Berkembang

Kota Bima, Bimeks.-
Kondisi Perusahaan Daerah (PD) Wawo Kabupaten Bima, belum menunjukkan perkembangan. Bahkan oleh pengelolanya sendiri menganggapnya layu sebelum berkembang.
Salah seorang Direksi PD Wawo, Achyar, mengatakan tidak berkembangnya berbagai usaha yang dimiliki, disebabkan beberapa factor. Diantaranya minimnya dukungan dari pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif.
Apalagi, kata dia, dengan adanya hasil audit BPK PD Wawo dianggap tidak layak lagi mendapat suntikan modal. Meski demikian pengelola optimis perusahaan ini akan berkembang.
“Kami optimis, jika ada dukungan dari pemerintah, dalam jangka waktu enam bulan PD Wawo bisa sehat lagi,” katanya pada Bimeks Rabangodu Utara, Sabtu (26/3).
Dukungan yang dibutuhkan, kata dia, bukan modal, namun adanya kebijakan berpihak pada PD Wawo. Selama ini dukungan kebijakan masih sangat minim. Dicontohkannya, salah satu unit usaha yang dimiliki adalah pengadaan Alat Tulis Kantor (ATK). Hanya saja selama ini, instansi lingkup Pemkab Bima tak pernah membeli atau menyerahkan pengadaan ATK pada mereka.
“Semestinya ada political will dari pemerintah, agar semua instansi menyerahkan pengadaan ATKnya pada kami. Toh keuntungan yang diperoleh PD Wawo juga akan masuk ke kas daerah melalui PAD. Tapi kenyataannya tidak seperti itu,” ujarnya.
Usaha lainnya yang lumpuh, kata dia, adalah pabrik garam yodium. Pemerintah tidak memberikan suntikan adana untuk perbaikan pabrik yang ada saat ini. Bahkan gudang pabrik tak ubahnya seperti kandang ternak. “Sekarang pabrik garamnya seperti kandang sapi. Jika pemerintah memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan atau rekomendasi agar kami bisa bekerjasama dengan pihak ketiga, 10 miliar rupiah pun bisa kami dapatkan,” ungkapnya.
Justru, kata dia, Pemerintah Provinsi NTB member kepercayaan kepada PD Wawo untuk mengelola anggaran senilai Rp200 juta untuk program garam yodium bagi siswa di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Dompu. “Program itu telah berjalan dua bulan dan masing-masing siswa akan mendapatkan jatah empat kilogram dan dibagi pertaham selama empat bulan,” ujarnya.
Program ini diperuntukkan bagi 40 sekolah dasar yang lokasinya jauh dari laut atau daerah pegunungan. Diharapkan dengan pemberian garam yodium, siswa akan pintar dan terhindari dari penyakit gondok.
Pabrik es di Sape, menurutnya kurag berkembang karena sejumlah factor. Salah satunya, karena musim ikan tidak selalu ada, namun ada saat tertentu. Selain itu terkadang keberadaan ikan jauh dari perairan Bima, sehingga nelayan memilih membeli es di tempat lain. (BE.16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar