Senin, 28 Maret 2011

Muhaimin: Perlu Keanekaragaman Hasil Tenun

Kota Bima, Bimeks.-
Lambo rancang busana yang akan digelar Jumat (1/4) dan Sabtu (2/4), bertujuan agar adanya keragaman produk dari hasil tenunan daerah. Termasuk menumbuhkan ragam kreatifitas dalam pengolahan tenunan, khususnya Bima. Hal itu sampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Bima, Muhaimin, SE, yang juga Ketua Panitia lomba, Senin (28/4).
“Dengan tumbuhnya kreatifitas dalam pemanfaatan hasil tenun, diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan kebutuhan produk dari tenunan itu,” ujarnya pada Bimeks di kantor Diskoprindag Kota Bima.
Muhaimin mengaku akan berupaya bagaimana kerajinan tenun di Kota Bima bisa lebih baik lagi, terutama dalam hal mutu dan harga. Selama ini ada kecenderungan penenun mengabaikan mutu. “Kadang tenunan yang dibuat asal selesai terkadang luntur dan mengkerut,” ujarnya.
Perilaku penenun seperti inilah, kata dia, yang perlu dibenahi. Termasuk dalam pemilihan bahan baku harus berkualitas, agar konsumen puas. Untuk itu diharapkan melalui momentum kegiatan lomba rancang busana tenunan khas NTB ini, bisa memacu kreatifitas para perancang.
Hingga kemarin, kata dia, setidaknya sudah 23 rencangan yang didaftarkan. Jumlah itu masih didominasi oleh Kota dan Kabupaten Bima, sementara Dompu rencananya 15 rancangan. “Tapi Dompu masih menyampaikan kesediaan secara lisan, belum mendaftar secara resmi,” katanya.
Selain umum, kata dia, ada juga dari beberapa sekolah yang akan ambil bagian. Namun rancanangan yang akan diikutkan sekitar dua.
Dikatakannya, juri yang akan dihadirkan tiga orang, dua dari Mataram dan satu dari Bima. Diantara penilaian lomba nantinya, yakni apakah tenunan atau batik benar-benar asli motif NTB. Termasuk design rencanangan, termasuk fashion ketika peragaan busana nantinya.
Untuk Jumat (1/4), penilaian rancangan pakaian tenun dan batik di aula Pemkot Bima. Selanjutnya Sabtu (2/4) peragaan busana hasil rancangan di Paruga Nae. Diharapkan kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. (BE.16)

Achyar: PD Wawo Layu Sebelum Berkembang

Kota Bima, Bimeks.-
Kondisi Perusahaan Daerah (PD) Wawo Kabupaten Bima, belum menunjukkan perkembangan. Bahkan oleh pengelolanya sendiri menganggapnya layu sebelum berkembang.
Salah seorang Direksi PD Wawo, Achyar, mengatakan tidak berkembangnya berbagai usaha yang dimiliki, disebabkan beberapa factor. Diantaranya minimnya dukungan dari pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif.
Apalagi, kata dia, dengan adanya hasil audit BPK PD Wawo dianggap tidak layak lagi mendapat suntikan modal. Meski demikian pengelola optimis perusahaan ini akan berkembang.
“Kami optimis, jika ada dukungan dari pemerintah, dalam jangka waktu enam bulan PD Wawo bisa sehat lagi,” katanya pada Bimeks Rabangodu Utara, Sabtu (26/3).
Dukungan yang dibutuhkan, kata dia, bukan modal, namun adanya kebijakan berpihak pada PD Wawo. Selama ini dukungan kebijakan masih sangat minim. Dicontohkannya, salah satu unit usaha yang dimiliki adalah pengadaan Alat Tulis Kantor (ATK). Hanya saja selama ini, instansi lingkup Pemkab Bima tak pernah membeli atau menyerahkan pengadaan ATK pada mereka.
“Semestinya ada political will dari pemerintah, agar semua instansi menyerahkan pengadaan ATKnya pada kami. Toh keuntungan yang diperoleh PD Wawo juga akan masuk ke kas daerah melalui PAD. Tapi kenyataannya tidak seperti itu,” ujarnya.
Usaha lainnya yang lumpuh, kata dia, adalah pabrik garam yodium. Pemerintah tidak memberikan suntikan adana untuk perbaikan pabrik yang ada saat ini. Bahkan gudang pabrik tak ubahnya seperti kandang ternak. “Sekarang pabrik garamnya seperti kandang sapi. Jika pemerintah memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan atau rekomendasi agar kami bisa bekerjasama dengan pihak ketiga, 10 miliar rupiah pun bisa kami dapatkan,” ungkapnya.
Justru, kata dia, Pemerintah Provinsi NTB member kepercayaan kepada PD Wawo untuk mengelola anggaran senilai Rp200 juta untuk program garam yodium bagi siswa di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Dompu. “Program itu telah berjalan dua bulan dan masing-masing siswa akan mendapatkan jatah empat kilogram dan dibagi pertaham selama empat bulan,” ujarnya.
Program ini diperuntukkan bagi 40 sekolah dasar yang lokasinya jauh dari laut atau daerah pegunungan. Diharapkan dengan pemberian garam yodium, siswa akan pintar dan terhindari dari penyakit gondok.
Pabrik es di Sape, menurutnya kurag berkembang karena sejumlah factor. Salah satunya, karena musim ikan tidak selalu ada, namun ada saat tertentu. Selain itu terkadang keberadaan ikan jauh dari perairan Bima, sehingga nelayan memilih membeli es di tempat lain. (BE.16)

PD Wawo akan Kelola Mangan di Sape

PERUSAHAAN Daerah (PD) Wawo rencananya akan mengelola tambangan mangan di Desa Boke dan Batu Putih Kecamatan Sape. Perusahaan milik Pemkab Bima ini akan bekerjasama dengan pihak ketiga, bahkan telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT Karya Putra Mahkota Mining.
Direksi PD Wawo, Achyar, berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, agar kerjasama pengtelolaan tambangan mangan bisa berjalan. Pihaknya tidak membutuhkan dukungan modal dana, namun hanya kebijakan.
“Pihak ketika siap mendanai pengelolaan tambang ini, jika Pemkab Bima memberikan kemudahan dalam perijinannya, seperti penerbitan Ijin Usaha Pertambangan,” ujarnya pada Bimeks di Rabangodu Utara, Sabtu (26/3).
Bahkan, kata dia, pihak ketika siap menyerahkan sejumlah pekerjaan pada PD Wawo, termasuk soal sosialisasi ke masyarakat. Bahkan pihaknya juga telah meminta dukungan dari element masyarakat dan ratusan orang telah membubuhkan tandatangan sebagai persetujuan.
“Bahkan masyarakat sendiri telah berinisiatif mendatangi Pemkab Bima, agar pengelolaan tambangan mangan segera berjalan,” ungkapnya.
Dia mengaku intens berkomunikasi dengan Pemkab Bima dan telah ada sinyal positif dari Bupati Bima. Meski dikeluhkannya pada tingkat pejabat di bawah bupati lamban merespon hal tersebut. Kenyataan ini menjadi kendala yang dihadapi pihaknya. (BE.16)